Senin, 07 November 2016

Inilah Keteladanan Pedagang Gorengan dalam Pembiayaan Usaha




Keteladanan dalam Optimalisasi Ilmu untuk Pembiayaan Usaha

Apa strategi Anda?

Sambil lari pagi, saya beli gorengan di sekitar jalan Riyanto-Purwokerto. Karena gorengan belum matang, saya pun menunggu sambil komat-kamit baca al ma’tsurat pagi. Tiba – tiba tukang gorengan teriak dari dalam rumah, “ Awas..awas..awas !!! Air panasss!! “ dan byuuurrrr.... air panas itu dituangkan ke ember berisi tabung gas 3 kg.
Saya kaget dan penuh rasa ingin tahu, kenapa disiram tabung gas-nya? Pakai air panas pula.
“Supaya gas-nya benar-benar habis & nyala api-nya selalu besar.”, jawab si mamang.
“Ohh, memang kenapa kalau tidak siram air panas...” Hmmm, saya mengerti. Si mamang Cuma senyum-senyum.
Memang kadang setiap ganti tabung gas LPG di rumah, saya merasa rugi. Ada sebagian kecil gas LPG yang tersisa dan tidak bisa habis. Awalnya saya juga heran, kenapa tabung gas-nya di wadahi ember...Ooo..ternyata itu rahasianya. Tidak semua pedagang gorengan melakukan ini. Efisiensi dan efektifitas.
Pelajaran ini memberi saya keyakinan tentang hubungan sangat erat antara ilmu IPA dan IPS. Bicara soal efektifitas dan efisiensi pembiayaan, kita bicara soal ekonomi, ilmu IPS. Efektifitas dan efisiensi tersebut didukung oleh pemahaman tentang prinsip pemuaian bahan alam, ilmu IPA. Nah, saya berniat memberikan pelajaran ini kepada putra-putri saya, agar mereka tidak men-dikotomi-kan pelajaran IPA dan IPS seperti kurikulum yang telah saya terima dulu.

Effective and Efficient Cost of Our Bussiness



Sebelumnya, saya membaca sharing kang Rendy Saputra, CEO Keke Busana tentang pentingnya fokus dalam memikirkan target efisiensi biaya yang harus ditekan dan sedikit mengesampingkan data-data yang telah memenuhi pikiran kita.
Begini, saat kita berpikir tentang bagaimana meminimalkan cost / beaya. Misalnya, kita harus tetap menjaga fokus kita pada goal meminimalkan HPP produk kita hingga 40%. Meskipun kita telah berusaha mencari informasi sehingga data-data telah memenuhi pikiran kita, namun ternyata kita belum berhasil menemukan supplier yang murah. Nah, apabila kita menyerah dan berhenti mencari supplier yang lebih murah, maka kita telah kalah oleh pikiran kita sendiri. Artinya, saat kita fokus pada tujuan, maka target yang telah kita tetapkan tersebut tidak boleh kita kurangi. Ahh..jadi 45% aja-lah..susyeh bener cari supplier..Ouch, perilaku ini akan berbahaya jika berulang pada target-target yang lain. Cukup sederhana ya, fokus pada goal yang telah ditetapkan.
Inti dari sharing beliau di atas, saya mengerti bahwa di era kompetisi yang sangat ketat dewasa ini, kemampuan managemen beaya akan sangat menentukan arus kas dan nilai profit dalam usaha yang kita tekuni. Keterampilan managemen ini akan menjamin keberlangsungan usaha hingga beberapa tahun yang akan datang. Ya, apapun jenis usahanya. Mau toko online atau offline, mau usaha bidang fashion atau kuliner, mau jualan produk atau jasa, semuanya memerlukan managemen beaya dan pembeayaan usaha yang baik.So, bagaimana melakukan managemen pembiayaan?
Pertama, Kedua, Ketiga, dan seterusnya...mungkin Anda berharap saya akan menuliskan beberapa tips ringkas, singkat, tajam dan teruji/terbukti tentang managemen biaya dan pembiayaan. Sayangnya tidak sekarang. Ada hal penting yang tidak boleh dilompati dalam pembahasan efektifitas dan efisiensi biaya. Yaitu, Kategori Biaya yang akan Anda keluarkan atau benar-benar perlu dikeluarkan.
Saya biasanya membuat pos pengeluaran berdasarkan 5 kategori, yaitu : Pengeluaran Wajib, Pengeluaran Rutin, Investasi, Tabungan, dan Dana Sosial. Pengeluaran Wajib, Investasi, Tabungan dan Dana Sosial saya alokasikan di awal, disisihkan di awal, bukan sisa dari pendapatan dikurangi pengeluaran. Karena bagi saya, 4 pos pengeluaran itu tidak dapat diganggu gugat. Tidak dapat ditekan pengeluarannya karena sifat-nya fixed cost. Sedangkan pengeluaran rutin termasuk flexible cost. Bisa ditekan, bisa disesuaikan, dan bisa dihemat. Nah, pos pengeluaran rutin inilah yang akan dilakukan efisiensi dan efektifitas.
Contoh fixed cost bagi saya adalah biaya anak sekolah, biaya kontrak sewa kantor usaha, biaya karyawan, dan biaya iuran BPJS Kesehatan. Sedangkan flexible cost bagi saya adalah biaya makan, biaya beli baju, biaya jajan anak-anak, biaya susu formula, biaya beli popok diapers, dan biaya bensin. Biaya flexible cost ini dapat saya tekan. Contoh, karena saya harus menekan biaya bensin, maka saya beli gorengan atau sarapan pagi, tidak naik motor..tapi sambil lari pagi. Jadi saya harus bangun lebih pagi. Lalu ke masjid, saya usahakan tidak naik motor meskipun agak jauh, maka saya datang ke masjid lebih awal. Saat menunggu antri di POM bensin, saya matikan mesin motor dan mendorong motor saya. Ya, untuk berhemat dan mengurangi polusi udara akibat pembakaran hidrokarbon yang tidak benar-benar perlu. Right?
Ada yang menganggap bensin itu fixed cost karena dia bekerja sebagai tukang ojek atau delivery service. Boleh saja demikian. Meskipun saya yakin, si bapak tukang ojek tetap akan mencari jalur terpendek dalam mengantar penumpang, mencari beberapa barang yang bisa diantar sekaligus dlam satu kali layanan delivery, dan mematikan mesin saat antri di POM atau di lampu merah atau di palang kereta api. 
bukan promo lho yaa...
Apakah Anda sadar bahwa perusahaan sekelas HONDA motorcycle telah membuat aplikasi idle stop technologyuntuk efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor-nya.  Itulah komitmen inovasi HONDA dan Anda pun bersedia membayar mahal atas teknologi cerdas ini. Semoga Anda mulai paham, mengapa saya menghubungkan pelajaran pedagang gorengan yang sederhana hingga idle stop technology dari HONDA. Inilah mindset berhemat, efisiensi dan efektifitas.
Mungkin selintas Anda pernah berpikir untuk berhemat, tapi kemudian bingung.. apanya yang mau dihemat? Entah karena tidak ada pengeluaran yang mubadzir atau karena tidak ada uang alias sudah benar-benar prihatin (tidak hanya sekedar berhemat...hehehe..). Betul? Karena itu, kategori biaya dan pembiayaan dalam bisnis Anda harus benar-benar clear dan tertelusur, sehingga ke depan akan lebih mudah ditingkatkan efektifitas dan efisiensi-nya. Selamat ber-kreasi dalam efektifitas dan efisiensi.

Salam,
Arif Budianto.