Selasa, 04 Oktober 2016

Capital Policy

Siasat Menghadapi Keterbatasan Modal

Keterbatasan adalah karunia agar kita selalu bersyukur dan tidak sombong (nasihat untuk arif)

Buka Apotek dan mengoperasikan Apotek membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Bagaimana bila modal kita terbatas? Hal-hal apa yang perlu disiasati agar kinerja apotek kita tetap bagus? Berikut ini akan saya jelaskan beberapa tips ringan yang dapat membantu mensiasati keterbatasan modal. Silakan disimak, direnungkan dan dipraktikkan. Semoga jadi pahala untuk saya.
  • Strategi Mendapatkan Cash Money

Saya membuat bimbingan belajar di sekitar Apotek. Beayanya Rp 350.000,00 untuk 28 kali pertemuan. Ada yang tidak biasa. Kalau nilai peserta bimbingan nilainya > 9, maka uangnya akan saya kembalikan 1 bulan setelah terima raport, utuh.
Orang tua murid senang? Tentu, insyaAllah. Mengapa? Anaknya pintar, uangnya kembali, artinya les-nya GRATIS. Siapa mau?
Alhamdulillah, 25 orang terdaftar. Total cash money yang saya peroleh Rp 8.750.000,00. Niat saya, ibarat saya pinjam uang 8 jutaan, bagi hasilnya adalah “bimbingan belajar”.
Adil? Bungkus...
  • Strategi Produk Unggulan (fast moving)

Saya menetapkan 10 produk fast moving yang menjadi produk unggulan. Saya menginvestasikan sebagian besar uang pada produk-produk ini. Karyawan berupaya bekerjasama dalam tim penjualan untuk produk ini. Produk itu yang akan memutar uang sehingga margin profit dan cash akan lebih cepat saya peroleh.
Alhamdulillah, adanya prioritas produk ini, jumlah cash / margin profit yang terbentuk cukup signifikan.
  • Strategi Optimalisasi Maganger

Maganger di Apotek, ngapain? Kalau saya, adik-adik mahasiswa yang magang saya optimalkan. Saya buat jadwal khusus untuk mereka lengkap dengan tugasnya. Alhamdulillah, saya senang karena proyek saya berjalan & mereka juga senang karena dapat ilmu baru dan dibayar oleh Apotek. Asik kan?
  • Pinjaman Lunak

Pinjaman tanpa bunga. Pinjaman tanpa riba. Di luar sana, banyak orang baik yang akan membantu Anda merintis bisnis. Mari berdo’a, mohon kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang baik seperti itu.
Sedikit cerita, saya belajar sejak SMP dapat beasiswa. SMA dan kuliah, bahkan hingga program profesi Apoteker, juga dapat beasiswa. Mau nikah pun, saya dapat beasiswa..eh...bea nikah. Saya tinggal di Asrama Salman ITB. Ada seorang pengurus Yayasan Pembina Salman yang dulu nikah di-beayai oleh pengurus Salman dan kini ia mencari pemuda yang ingin menikah tapi tidak ada uang. Alhamdulillah ketemu dengan saya. Akhirnya saya nikah dengan bantuan pinjaman lunak tersebut. Lalu saya mau bisnis, saya beranikan untuk meminjam kepada pengurus Yayasan lain yang saya tahu sangat konsen dengan kemandirian / wirausaha, Muhammad Akmasj. Alhamdulillah, saya dipinjami uang modal dari beliau. Sampai tulisan ini saya buat, saya masih berhutang uang dan berhutang budi kepada beliau. Semoga Allah merahmati mas Akmasj dan keluarga. Aamiin.
Karunia Allah ta'ala sangat berlimpah.. Itulah MODAL kita.

Bagaimana dengan Anda?
Baik, bicara soal modal, rasanya kurang afdhal bila saya tidak menyinggung masalah ini. Tentang modal hutang bank, bagaimana?
Hutang bank (khususnya bank konvensional) adalah pilihan yang paling buruk. Sistem konvensional (riba) akan menghancurkan bisnis Anda berkeping-keping. Menghilangkan kinerja Apotek Anda & mencabut ketenangan Anda dalam berbisnis sehingga tidak dapat berpikir jernih.
Saya pernah punya utang ke KUR (Kredit Usaha Rakyat). Semua sistem yang saya bangun, kedisiplinan yang saya pupuk dalam tim dan kepercayaan antara saya dan istri, semuanya hancur. Tiap hari bawaannya marah dan kesal. Puncaknya karyawan semua keluar. Stok kacau, tagihan amburadul, pembeli kecewa, dan omzet turun sampai 60% pada 2 bulan terakhir. Sebelum tutup Apotek, saya terima broadcast message dari seorang teman tentang riba. Pas banget dengan kondisi saya. Akhirnya saya curhat ke sahabat yang sebenarnya baru kenal kurang dari 6 bulan & alhamdulillah saya dipinjami oleh beliau. Hutang riba lunas & saya membenahi kembali 1 per satu lini pemasukan bisnis saya. Berhati-hatilah dengan hutang. Cicilan tetap, tapi pemasukan tidak tetap. Riba tidak logis dalam akun neraca keuangan saya & saya berusaha menghindari pinjaman semacam riba. Alhamdulillah.

Bila Anda bertanya pada saya, saran saya jangan sedetikpun memiliki niat untuk pinjam ke bank sistem riba.
Bagaimana dengan bank syariah yang menerapkan sistem bagi hasil? Saya persilakan, saya tidak ingin membahasnya disini..hehehe..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar