Siasat Menghadapi Keterbatasan Modal
![]() |
| Keterbatasan adalah karunia agar kita selalu bersyukur dan tidak sombong (nasihat untuk arif) |
Buka Apotek dan mengoperasikan Apotek membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Bagaimana
bila modal kita terbatas? Hal-hal apa yang perlu disiasati agar kinerja apotek
kita tetap bagus? Berikut ini akan saya jelaskan beberapa tips ringan yang
dapat membantu mensiasati keterbatasan modal. Silakan disimak, direnungkan dan
dipraktikkan. Semoga jadi pahala untuk saya.
- Strategi Mendapatkan Cash Money
Saya membuat bimbingan
belajar di sekitar Apotek. Beayanya Rp 350.000,00 untuk 28 kali pertemuan. Ada
yang tidak biasa. Kalau nilai peserta bimbingan nilainya > 9, maka uangnya
akan saya kembalikan 1 bulan setelah terima raport, utuh.
Orang tua murid senang?
Tentu, insyaAllah. Mengapa? Anaknya pintar, uangnya kembali, artinya les-nya
GRATIS. Siapa mau?
Alhamdulillah, 25 orang
terdaftar. Total cash money yang saya peroleh Rp 8.750.000,00. Niat saya,
ibarat saya pinjam uang 8 jutaan, bagi hasilnya adalah “bimbingan belajar”.
Adil? Bungkus...
- Strategi Produk Unggulan (fast moving)
Saya menetapkan 10
produk fast moving yang menjadi produk unggulan. Saya menginvestasikan sebagian
besar uang pada produk-produk ini. Karyawan berupaya bekerjasama dalam tim
penjualan untuk produk ini. Produk itu yang akan memutar uang sehingga margin
profit dan cash akan lebih cepat saya peroleh.
Alhamdulillah, adanya
prioritas produk ini, jumlah cash / margin profit yang terbentuk cukup signifikan.
- Strategi Optimalisasi Maganger
Maganger di Apotek,
ngapain? Kalau saya, adik-adik mahasiswa yang magang saya optimalkan. Saya buat
jadwal khusus untuk mereka lengkap dengan tugasnya. Alhamdulillah, saya senang
karena proyek saya berjalan & mereka juga senang karena dapat ilmu baru dan
dibayar oleh Apotek. Asik kan?
- Pinjaman Lunak
Pinjaman tanpa bunga.
Pinjaman tanpa riba. Di luar sana, banyak orang baik yang akan membantu Anda
merintis bisnis. Mari berdo’a, mohon kepada Allah agar dipertemukan dengan
orang-orang baik seperti itu.
Sedikit cerita, saya
belajar sejak SMP dapat beasiswa. SMA dan kuliah, bahkan hingga program profesi
Apoteker, juga dapat beasiswa. Mau nikah pun, saya dapat beasiswa..eh...bea
nikah. Saya tinggal di Asrama Salman ITB. Ada seorang pengurus Yayasan Pembina
Salman yang dulu nikah di-beayai oleh pengurus Salman dan kini ia mencari
pemuda yang ingin menikah tapi tidak ada uang. Alhamdulillah ketemu dengan
saya. Akhirnya saya nikah dengan bantuan pinjaman lunak tersebut. Lalu saya mau
bisnis, saya beranikan untuk meminjam kepada pengurus Yayasan lain yang saya
tahu sangat konsen dengan kemandirian / wirausaha, Muhammad Akmasj.
Alhamdulillah, saya dipinjami uang modal dari beliau. Sampai tulisan ini saya
buat, saya masih berhutang uang dan berhutang budi kepada beliau. Semoga Allah
merahmati mas Akmasj dan keluarga. Aamiin.
![]() |
| Karunia Allah ta'ala sangat berlimpah.. Itulah MODAL kita. |
Bagaimana dengan Anda?
Baik,
bicara soal modal, rasanya kurang afdhal bila saya tidak menyinggung masalah
ini. Tentang modal hutang bank, bagaimana?
Hutang
bank (khususnya bank konvensional) adalah pilihan yang paling buruk. Sistem
konvensional (riba) akan menghancurkan bisnis Anda berkeping-keping.
Menghilangkan kinerja Apotek Anda & mencabut ketenangan Anda dalam
berbisnis sehingga tidak dapat berpikir jernih.
Saya
pernah punya utang ke KUR (Kredit Usaha Rakyat). Semua sistem yang saya bangun,
kedisiplinan yang saya pupuk dalam tim dan kepercayaan antara saya dan istri,
semuanya hancur. Tiap hari bawaannya marah dan kesal. Puncaknya karyawan semua
keluar. Stok kacau, tagihan amburadul, pembeli kecewa, dan omzet turun sampai
60% pada 2 bulan terakhir. Sebelum tutup Apotek, saya terima broadcast message dari seorang teman
tentang riba. Pas banget dengan kondisi saya. Akhirnya saya curhat ke sahabat
yang sebenarnya baru kenal kurang dari 6 bulan & alhamdulillah saya
dipinjami oleh beliau. Hutang riba lunas & saya membenahi kembali 1 per
satu lini pemasukan bisnis saya. Berhati-hatilah dengan hutang. Cicilan tetap,
tapi pemasukan tidak tetap. Riba tidak logis dalam akun neraca keuangan saya
& saya berusaha menghindari pinjaman semacam riba. Alhamdulillah.
Bila
Anda bertanya pada saya, saran saya jangan sedetikpun memiliki niat untuk
pinjam ke bank sistem riba.
Bagaimana dengan bank
syariah yang menerapkan sistem bagi hasil? Saya persilakan, saya tidak ingin
membahasnya disini..hehehe..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar