Sabtu, 27 Agustus 2016

Menulis Bagi(an) Kepribadian Kita

Menulis itu .....

Menulis itu menjaga lisan.
Allah memberikan 2 telinga dan 1 mulut kepada kita, tentu agar kita lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Kata-kata bagaikan pedang yang selalu terhunus. Saya menyadari bahwa saya seorang yang banyak bicara. Saat mengikuti program Talent Mapping® dari Abah Rama Royani, keterampilan komunikasi dan connectedness adalah bakat sangat dominan dalam diri saya. Saya menganggap itu hal yang baik, sebuah bakat yang potensial untuk dikembangkan. Keterampilan komunikasi dan merangkai diksi dalam kalimat-kalimat yang berintonasi dan ekspresif inilah yang pernah membuat saya menjadi peserta favorit pada ajang lomba pidato Sumpah Pemuda di kampus saya. Hebat, dong?! Ternyata tidak. Saat ber-orasi di depan Gedung Sate bersama rekan-rekan JMKI juga di depan adik-adik mahasiswa baru, mungkin saya terlihat hebat. Padahal sungguh itu bukan apa yang saya lakukan sepenuhnya.
Kabura maktan ‘indallaahi man takuulu maa laa taf’aluun, Allah ta’ala murka bila kita mengatakan apa-apa yang tidak kita lakukan. Bahasa sekarang OMDO (omong doang). Kemurkaan Allah ta’ala bisa jadi terletak saat saya menganggap baik atas keburukan yang saya kerjakan. Sahabat saya, ikhwanul alim menasihati, jagalah lisan. Karena kalau sekedar bicara, biasanya kata-kata yang muncul berupa uraian kalimat spontanitas dan ini sangat berisiko untuk salah. Padahal setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita, tidak dapat kita tarik kembali dan bila itu suatu kata-kata yang salah atau fitnah yang melukai hati orang lain, maka kalimat-kalimat tersebut tidak dapat dibatalkan meskipun dengan ribuan ucapan maaf. Demikianlah pelajaran yang dapat saya ambil, sesuai dengan pesan yang sangat agung dari rasulullah Shallaahhu ‘alaihi wa sallam, agar senantiasa menjaga lisan agar mendapatkan surga-Nya Allah ta’ala. Nah, kalau kalimat-kalimat itu ditulis, pasti saya pikir-pikir dulu..tidak asal bicara, kalau salah atau ambigu atau berpotensi dosa bisa dihapus dan lebih aman. Itulah mengapa, menulis bagi saya adalah menjaga lisan saya.

Menulis itu bermanfaat.
Saya harus menulis untuk menuangkan idealisme dan gagasan saya agar lebih teratur sehingga mudah dipahami orang lain. Seringkali pembicaraan saya terlalu cepat dan menyebabkan salah paham. Saya ingin merubah kebiasaan saya dengan membuat kerangka atas tema yang akan saya bicarakan. Saya berlatih berbicara berdasarkan tulisan melalui kegiatan mentoring keislaman dan mengisi ceramah. Hasilnya apa yang saya bicarakan menjadi lebih teratur, ber-alur dan saya mengerti pada bagian kalimat mana yang harus saya ulang atau memberi penekanan.
Sahabat saya saat kuliah apoteker, beliau adalah mahasiswi terbaik UAD tahun 2009 yang melanjutkan program profesi apoteker di ITB, pernah meminta saya menuliskan naskah pidato sambutan saat pelepasan wisudawan di UAD Yogya. Saya membayangkan diri saya sebagai seorang mahasiswa terbaik yang telah dididik oleh para guru-guru terbaik, saya menuliskannya, lalu membacanya dan merekamnya untuk sahabat saya, lengkap dengan intonasi yang ekspresif khas. Hasilnya, sahabat saya mendapatkan pujian dari rektor UAD, anggota Majelis Wali Amanat dan para dosen, atas pidato sambutan yang penuh semangat. Teman saya sangat bahagia dan menjadi a man behind the scene, juga membahagiakan. Senang rasanya dapat berbagi dengan orang lain. Menulis bagi saya adalah salah satu aktifitas yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga tulisan saya menjadi sarana amal jariyah atau ilmu bermanfaat yang pahalanya terus mengalir dan membantu saya mempertanggung jawabkan kepada Allah ta’ala atas waktu dan nikmat yang Allah telah berikan kepada saya. Dengan tulisan, insyaAllah usia karya saya dapat melebihi usia biologis saya.


Menulis itu merapikan kenangan.
Merapikan kenangan dengan tulisan. Sudah lihat film animasi Inside Out? Sebuah film garapan Pixar ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kenangan dan bagaimana dekatnya korelasi antara kenangan masa lalu yang akan mempengaruhi tindakan kita di masa depan. Kenangan-kenangan yang baik akan menjadi motivasi untuk selalu menyusun pundi-pundi kebaikan. Dan kenangan-kenangan yang buruk, seperti rasa takut, sedih, marah dan sebagainya dapat membuat kita lebih bijaksana (mengambil hikmah atas kekeliruan kita) dan lebih berhati-hati dalam bertindak.
Secara sadar, ketika menjalani kehidupan sehari-hari, saya telah memutuskan banyak hal besar yang telah dan akan mengubah kehidupan saya saat ini dan di masa yang akan datang. Beberapa hal konyol akibat ketidak tahuan saya harus menjadi pelajaran yang berharga bagi saya, putra-putri saya dan anak keturunan saya nantinya. Bila kenangan-kenangan itu hilang begitu saja, tidak ada hal yang dapat kita pelajari untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Inilah pentingnya kenangan yang rapi (dalam bentuk tulisan). Beberapa hal baik yang telah saya rintis, semoga menjadi inspirasi kebaikan bagi mereka dan semoga Allah berkenan memberikan rahmat-Nya kepada saya. Rabbii hablii minasshaalihiin. Ya Allah, masukkanlah aku (dan keturunanku) ke dalam golongan orang-orang yang shalih.

Menulis itu jalan para pewaris Nabi.

Meraih surga dengan tulisan. Mengapa tidak? Para ulama pendahulu dan pewaris risalah para nabi telah mencontohkan kegiatan menulis yang dapat merubah umat ini menjadi lebih baik akhlaknya. Membawanya dari gelapnya kebodohan menuju cahaya hidayah-Nya. Multi level pahala, suatu kegiatan yang dapat melipat gandakan pahala menuju keridhaan Allah ta’ala.

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.
nulis yuk..