Menulis itu .....
Menulis itu menjaga
lisan.
Allah memberikan 2
telinga dan 1 mulut kepada kita, tentu agar kita lebih banyak
mendengar dibandingkan berbicara. Kata-kata bagaikan pedang yang
selalu terhunus. Saya menyadari bahwa saya seorang yang banyak
bicara. Saat mengikuti program Talent Mapping® dari
Abah Rama Royani, keterampilan komunikasi dan connectedness adalah
bakat sangat dominan dalam diri saya. Saya menganggap itu hal yang
baik, sebuah bakat yang potensial untuk dikembangkan. Keterampilan
komunikasi dan merangkai diksi dalam kalimat-kalimat yang berintonasi
dan ekspresif inilah yang pernah membuat saya menjadi peserta favorit
pada ajang lomba pidato Sumpah Pemuda di kampus saya. Hebat, dong?!
Ternyata tidak. Saat ber-orasi di depan Gedung Sate bersama
rekan-rekan JMKI juga di depan adik-adik mahasiswa baru, mungkin saya
terlihat hebat. Padahal sungguh itu bukan apa yang saya lakukan
sepenuhnya.
Kabura maktan
‘indallaahi man takuulu maa laa taf’aluun, Allah ta’ala
murka bila kita mengatakan apa-apa yang tidak kita lakukan. Bahasa
sekarang OMDO (omong doang). Kemurkaan Allah ta’ala bisa jadi
terletak saat saya menganggap baik atas keburukan yang saya kerjakan.
Sahabat saya, ikhwanul alim menasihati, jagalah lisan. Karena kalau
sekedar bicara, biasanya kata-kata yang muncul berupa uraian kalimat
spontanitas dan ini sangat berisiko untuk salah. Padahal setiap
kata-kata yang keluar dari mulut kita, tidak dapat kita tarik kembali
dan bila itu suatu kata-kata yang salah atau fitnah yang melukai hati
orang lain, maka kalimat-kalimat tersebut tidak dapat dibatalkan
meskipun dengan ribuan ucapan maaf. Demikianlah pelajaran yang dapat
saya ambil, sesuai dengan pesan yang sangat agung dari rasulullah
Shallaahhu ‘alaihi wa sallam, agar senantiasa menjaga lisan agar
mendapatkan surga-Nya Allah ta’ala. Nah, kalau kalimat-kalimat itu
ditulis, pasti saya pikir-pikir dulu..tidak asal bicara, kalau salah
atau ambigu atau berpotensi dosa bisa dihapus dan lebih aman. Itulah
mengapa, menulis bagi saya adalah menjaga lisan saya.
Menulis itu
bermanfaat.
Saya harus menulis untuk
menuangkan idealisme dan gagasan saya agar lebih teratur sehingga
mudah dipahami orang lain. Seringkali pembicaraan saya terlalu cepat
dan menyebabkan salah paham. Saya ingin merubah kebiasaan saya dengan
membuat kerangka atas tema yang akan saya bicarakan. Saya berlatih
berbicara berdasarkan tulisan melalui kegiatan mentoring keislaman
dan mengisi ceramah. Hasilnya apa yang saya bicarakan menjadi lebih
teratur, ber-alur dan saya mengerti pada bagian kalimat mana yang
harus saya ulang atau memberi penekanan.
Sahabat saya saat kuliah
apoteker, beliau adalah mahasiswi terbaik UAD tahun 2009 yang
melanjutkan program profesi apoteker di ITB, pernah meminta saya
menuliskan naskah pidato sambutan saat pelepasan wisudawan di UAD
Yogya. Saya membayangkan diri saya sebagai seorang mahasiswa terbaik
yang telah dididik oleh para guru-guru terbaik, saya menuliskannya,
lalu membacanya dan merekamnya untuk sahabat saya, lengkap dengan
intonasi yang ekspresif khas. Hasilnya, sahabat saya mendapatkan
pujian dari rektor UAD, anggota Majelis Wali Amanat dan para dosen,
atas pidato sambutan yang penuh semangat. Teman saya sangat bahagia
dan menjadi a man behind the scene, juga membahagiakan. Senang
rasanya dapat berbagi dengan orang lain. Menulis bagi saya adalah
salah satu aktifitas yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang
lain. Semoga tulisan saya menjadi sarana amal jariyah atau ilmu
bermanfaat yang pahalanya terus mengalir dan membantu saya
mempertanggung jawabkan kepada Allah ta’ala atas waktu dan nikmat
yang Allah telah berikan kepada saya. Dengan tulisan, insyaAllah usia
karya saya dapat melebihi usia biologis saya.
Menulis itu merapikan
kenangan.
Merapikan kenangan dengan
tulisan. Sudah lihat film animasi Inside Out? Sebuah film
garapan Pixar ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kenangan dan
bagaimana dekatnya korelasi antara kenangan masa lalu yang akan
mempengaruhi tindakan kita di masa depan. Kenangan-kenangan yang baik
akan menjadi motivasi untuk selalu menyusun pundi-pundi kebaikan. Dan
kenangan-kenangan yang buruk, seperti rasa takut, sedih, marah dan
sebagainya dapat membuat kita lebih bijaksana (mengambil hikmah atas
kekeliruan kita) dan lebih berhati-hati dalam bertindak.
Secara sadar, ketika
menjalani kehidupan sehari-hari, saya telah memutuskan banyak hal
besar yang telah dan akan mengubah kehidupan saya saat ini dan di
masa yang akan datang. Beberapa hal konyol akibat ketidak tahuan saya
harus menjadi pelajaran yang berharga bagi saya, putra-putri saya dan
anak keturunan saya nantinya. Bila kenangan-kenangan itu hilang
begitu saja, tidak ada hal yang dapat kita pelajari untuk menyongsong
masa depan yang lebih baik. Inilah pentingnya kenangan yang rapi
(dalam bentuk tulisan). Beberapa hal baik yang telah saya rintis,
semoga menjadi inspirasi kebaikan bagi mereka dan semoga Allah
berkenan memberikan rahmat-Nya kepada saya. Rabbii hablii
minasshaalihiin. Ya Allah, masukkanlah aku (dan keturunanku) ke
dalam golongan orang-orang yang shalih.
Menulis itu jalan para
pewaris Nabi.
Meraih
surga dengan tulisan. Mengapa tidak? Para ulama pendahulu dan pewaris
risalah para nabi telah mencontohkan kegiatan menulis yang dapat
merubah umat ini menjadi lebih baik akhlaknya. Membawanya dari
gelapnya kebodohan menuju cahaya hidayah-Nya. Multi level pahala,
suatu kegiatan yang dapat melipat gandakan pahala menuju keridhaan
Allah ta’ala.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.
nulis yuk..

