Keteladanan dalam Optimalisasi Ilmu untuk Pembiayaan Usaha
![]() |
| Apa strategi Anda? |
Sambil lari pagi, saya beli
gorengan di sekitar jalan Riyanto-Purwokerto. Karena gorengan belum matang,
saya pun menunggu sambil komat-kamit baca al ma’tsurat pagi. Tiba – tiba tukang
gorengan teriak dari dalam rumah, “ Awas..awas..awas !!! Air panasss!! “ dan
byuuurrrr.... air panas itu dituangkan ke ember berisi tabung gas 3 kg.
Saya kaget dan penuh rasa ingin
tahu, kenapa disiram tabung gas-nya? Pakai air panas pula.
“Supaya gas-nya benar-benar habis
& nyala api-nya selalu besar.”, jawab si mamang.
“Ohh, memang kenapa kalau tidak
siram air panas...” Hmmm, saya mengerti. Si mamang Cuma senyum-senyum.
Memang kadang setiap ganti tabung
gas LPG di rumah, saya merasa rugi. Ada sebagian kecil gas LPG yang tersisa dan
tidak bisa habis. Awalnya saya juga heran, kenapa tabung gas-nya di wadahi
ember...Ooo..ternyata itu rahasianya. Tidak semua pedagang gorengan melakukan
ini. Efisiensi dan efektifitas.
Pelajaran ini memberi saya
keyakinan tentang hubungan sangat erat antara ilmu IPA dan IPS. Bicara soal
efektifitas dan efisiensi pembiayaan, kita bicara soal ekonomi, ilmu IPS.
Efektifitas dan efisiensi tersebut didukung oleh pemahaman tentang prinsip
pemuaian bahan alam, ilmu IPA. Nah, saya berniat memberikan pelajaran ini
kepada putra-putri saya, agar mereka tidak men-dikotomi-kan pelajaran IPA dan
IPS seperti kurikulum yang telah saya terima dulu.
Effective and Efficient Cost of Our Bussiness
Sebelumnya, saya membaca sharing kang Rendy Saputra, CEO Keke
Busana tentang pentingnya fokus dalam memikirkan target efisiensi biaya yang
harus ditekan dan sedikit mengesampingkan data-data yang telah memenuhi pikiran
kita.
Begini, saat kita berpikir
tentang bagaimana meminimalkan cost / beaya. Misalnya, kita harus tetap menjaga
fokus kita pada goal meminimalkan HPP produk kita hingga 40%. Meskipun kita
telah berusaha mencari informasi sehingga data-data telah memenuhi pikiran
kita, namun ternyata kita belum berhasil menemukan supplier yang murah. Nah,
apabila kita menyerah dan berhenti mencari supplier yang lebih murah, maka kita
telah kalah oleh pikiran kita sendiri. Artinya, saat kita fokus pada tujuan,
maka target yang telah kita tetapkan tersebut tidak boleh kita kurangi.
Ahh..jadi 45% aja-lah..susyeh bener cari supplier..Ouch, perilaku ini akan
berbahaya jika berulang pada target-target yang lain. Cukup sederhana ya, fokus
pada goal yang telah ditetapkan.
Inti dari sharing beliau di atas,
saya mengerti bahwa di era kompetisi yang sangat ketat dewasa ini, kemampuan
managemen beaya akan sangat menentukan arus kas dan nilai profit dalam usaha
yang kita tekuni. Keterampilan managemen ini akan menjamin keberlangsungan
usaha hingga beberapa tahun yang akan datang. Ya, apapun jenis usahanya. Mau
toko online atau offline, mau usaha bidang fashion atau kuliner, mau jualan
produk atau jasa, semuanya memerlukan managemen beaya dan pembeayaan usaha yang
baik.So, bagaimana melakukan managemen pembiayaan?
Pertama, Kedua, Ketiga, dan
seterusnya...mungkin Anda berharap saya akan menuliskan beberapa tips ringkas,
singkat, tajam dan teruji/terbukti tentang managemen biaya dan pembiayaan.
Sayangnya tidak sekarang. Ada hal penting yang tidak boleh dilompati dalam
pembahasan efektifitas dan efisiensi biaya. Yaitu, Kategori Biaya yang akan
Anda keluarkan atau benar-benar perlu dikeluarkan.
Saya biasanya membuat pos
pengeluaran berdasarkan 5 kategori, yaitu : Pengeluaran Wajib, Pengeluaran Rutin,
Investasi, Tabungan, dan Dana Sosial. Pengeluaran Wajib, Investasi, Tabungan
dan Dana Sosial saya alokasikan di awal, disisihkan di awal, bukan sisa dari pendapatan
dikurangi pengeluaran. Karena bagi saya, 4 pos pengeluaran itu tidak dapat
diganggu gugat. Tidak dapat ditekan pengeluarannya karena sifat-nya fixed cost. Sedangkan pengeluaran rutin
termasuk flexible cost. Bisa ditekan,
bisa disesuaikan, dan bisa dihemat. Nah, pos pengeluaran rutin inilah yang akan
dilakukan efisiensi dan efektifitas.
Contoh fixed cost bagi saya adalah biaya anak sekolah, biaya kontrak sewa
kantor usaha, biaya karyawan, dan biaya iuran BPJS Kesehatan. Sedangkan flexible cost bagi saya adalah biaya
makan, biaya beli baju, biaya jajan anak-anak, biaya susu formula, biaya beli
popok diapers, dan biaya bensin. Biaya flexible
cost ini dapat saya tekan. Contoh, karena saya harus menekan biaya bensin,
maka saya beli gorengan atau sarapan pagi, tidak naik motor..tapi sambil lari
pagi. Jadi saya harus bangun lebih pagi. Lalu ke masjid, saya usahakan tidak
naik motor meskipun agak jauh, maka saya datang ke masjid lebih awal. Saat
menunggu antri di POM bensin, saya matikan mesin motor dan mendorong motor
saya. Ya, untuk berhemat dan mengurangi polusi udara akibat pembakaran
hidrokarbon yang tidak benar-benar perlu. Right?
Ada yang menganggap bensin itu fixed cost karena dia bekerja sebagai
tukang ojek atau delivery service.
Boleh saja demikian. Meskipun saya yakin, si bapak tukang ojek tetap akan
mencari jalur terpendek dalam mengantar penumpang, mencari beberapa barang yang
bisa diantar sekaligus dlam satu kali layanan delivery, dan mematikan mesin saat antri di POM atau di lampu merah
atau di palang kereta api.
![]() |
| bukan promo lho yaa... |
Apakah Anda sadar bahwa
perusahaan sekelas HONDA motorcycle telah membuat aplikasi idle stop technologyuntuk efisiensi bahan bakar kendaraan
bermotor-nya. Itulah komitmen inovasi
HONDA dan Anda pun bersedia membayar mahal atas teknologi cerdas ini. Semoga
Anda mulai paham, mengapa saya menghubungkan pelajaran pedagang gorengan yang
sederhana hingga idle stop technology
dari HONDA. Inilah mindset berhemat, efisiensi dan efektifitas.
Mungkin selintas Anda pernah
berpikir untuk berhemat, tapi kemudian bingung.. apanya yang mau dihemat? Entah
karena tidak ada pengeluaran yang mubadzir atau karena tidak ada uang alias
sudah benar-benar prihatin (tidak hanya sekedar berhemat...hehehe..). Betul?
Karena itu, kategori biaya dan pembiayaan dalam bisnis Anda harus benar-benar
clear dan tertelusur, sehingga ke depan akan lebih mudah ditingkatkan
efektifitas dan efisiensi-nya. Selamat ber-kreasi dalam efektifitas dan
efisiensi.
Salam,
Arif Budianto.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar