3
Alasan Apoteker Harus Punya Apotek
Alasan
Idealisme
Bisnisku..rumahku...Bisnisku..negeriku....
Bisnisku..perjuanganku....Bisnisku..idealisme
kami..
Disana,
kami dibina..menjadi seorang pengusaha..
Memberi..solusi
nyata.....untuk negeri tercinta..
Berjuta
rakyat..memanggil namamu.. mereka lapaar dan bau keringat..
Ku
sampaikan salam salam perjuangan..kami semua cinta cinta Indonesia..
Hehehe..itu adaptasi lagu
kampusku..pernah dengar,kan?
Ya, bagi Apoteker, buka apotek adalah
idealisme. Semua ilmu yang Anda pelajari hingga lebih dari 150 sks adalah untuk
membuka apotek. Kalau untuk kerja di bank atau nulis seperti saya, mungkin
tidak sampai 150 sks.. contohnya,
Anda suka kelompok keahlian biologi
farmasi?
Saat praktik di Apotek, Anda bisa
menjelaskan tentang obat herbal dan penanganannya kepada masyarakat secara
langsung. Anda bisa memberikan demonstrasi cara penyeduhan bahan simplisia
herbal dengan teko tanah khusus, bukan dengan panci alumunium. Why? Anda bisa jelaskan interaksi
senyawa flavoloid, tanin atau lignan pada tanaman dengan bahan alumunium dan
bahayanya bagi kesehatan pasien Anda.
Di saat yang sama, Anda bisa menjelaskan
perbedaan infusa, maserasi, dan ekstraksi dengan detail termasuk cara
penyimpanan, jumlah dan frekuensi ekstraksi, serta kriteria stabilita sediaan
obat tradisional secara kimia, fisika maupun mikrobiologi.
Penjelasan yang komprehensif tentang
pengolahan herbal akan membuat Anda terlihat hebat, kan? Dan Anda dibayar lho, Anda
bisa dibanjiri repeat order produk Anda dan Anda mengangkat citra keprofesian
Apoteker. Wuih...TOP-BGT. Siapa mau?
Oh, Anda skripsi di bidang Farmakologi
& Toksikologi?
Saat praktik di apotek, Anda bisa
jelaskan bagaimana interaksi obat-obat dengan makanan. Anda bisa membantu
pasien mengerti tentang gaya hidup sehari-hari yang mempengaruhi
farmakokinetika dan farmakodinamika obat sehingga Anda bisa memberikan saran
dan rekomendasi terapi non-farmakologi. Di Apotek saya, obat hipertensi
captopril diminum sesudah makan, padahal di jurnal disebutkan absorpsinya akan
berkurang hingga 25% karena berinteraksi dengan makanan, sehingga sebaiknya
diberikan sebelum makan.
Ya, maaf..ternyata Anda lebih suka Kimia
Farmasi ya?
Saat praktik di apotek, Anda bisa
menjelaskan bagaimana Pantoprazole lebih efektif untuk pasien GERD dibanding
Omeprazole, dari sisi kajian QSAR dan enantiomer senyawa kiral-nya..ngomong
apaan ya? Hehehe,,yang bukan Apoteker sabar ya,,yang penting duit-nya, ga
ngerti campuran rasemik juga ga papa.
Atau sebenarnya Anda nge-fans dengan bidang
farmaseutika, biofarmasi dan teknologi farmasi?
Saat praktik di apotek, Anda dapat
menerapkan kajian farmakoekonomi berdasarkan profil BA-BE satu obat dengan obat
yang lain dan informasi ini akan berguna bagi dokter saat memberikan resep bagi
pasien.
Anda juga dapat menjelaskan cara
re-suspensi produk dry syrup dengan
benar, bisa mencegah peredaran obat palsu dan resep yang tidak bertanggung
jawab, termasuk menjelaskan kepada pasien tentang cara penyimpanan obat yang
benar agar kualitas obat tetap terjaga.
Eh, kok ternyata Anda suka bisnis, nilai
manajemen farmasi dapat A “istimewa”, bisa jadi Anda lebih cocok kerja di
Apotek yang full of target, full of marketing, full smart financial& full
of skill.
So, bila ada beberapa orang yang berkata
bahwa dari 100% ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. Maka hanya 10% saja yang
akan digunakan di lapangan kerja, maka apoteker yang praktik di apotek hampir
menerapkan semua SKS yang dia pelajari semasa kuliah. Ilmu yang bermanfaat ya?
insyaAllah. Demikianlah alasan mengapa Apoteker harus punya apotek.
![]() |
| Apotek itu Tabungannya Apoteker |
Alasan
Investasi
Saat masih bekerja di Ferron Par
Pharmaceuticals, saya sering mengobrol dengan factory manager saya, Benyamin Budi
Satria. Beliau alumni se-almamater di ITB angkatan tahun 1979. Beliau bercerita
bagaimana perjalanan cinta & pekerjaannya, yang membawanya harus pulang
pergi Palembang Jakarta & komitmen beliau untuk selalu memenuhi tugas dan
tanggung jawab yang telah diembannya. Sebelum audit Bavarian Germany, di
sela-sela memeriksa kelengkapan dokumen shipping produk Glucient &
Penyimpanan Produk NOVO, beliau istirahat sejenak dan bertanya pada saya,
“Bo, kamu tahu, apa yang paling saya
inginkan dari anak saya, Kevin?” tanyanya serius. Oh ya,,panggilan sy di Ferron
adalah ABOatau Bo. Sy takut-takut melihat wajah Pak Ben, saya bilang, “Mungkin
kuliah di luar negeri selepas SMA ini, Pak?”.
“Bukan.”, jawabnya. “Kemarin, istri saya
telepon, dia buatkan untuk saya makanan spesial Gurame Terbang, dia sedang
belajar masakan oriental ke teman di gereja yang juga seorang chef. Kamu pernah
makan Gurame Terbang, Bo?” tanyanya. “Belum, Pak. Sy paling makan Gurame di
D’Cost saja.”, jawab saya. Kami berdua tertawa.
“Bo, saya ga bisa datang makan malam
kemarin dan istri saya kecewa.” Lanjutnya dengan nada datar. “Buat Kevin, saya
ingin di masa tua saya, dia mau merawat saya.” Kami diam, saya bingung mau
ngomong apa..trus tiba-tiba ingat sekuel film Detektif Conan yang kemarin
ditonton bareng sama istri dan saya akhirnya bilang, “Pak Ben telah bekerja
keras untuk keluarga, Pak Ben akan bahagia di masa tua nanti.”
Tentu di masa tua, Pak Ben tidak mau
bekerja lagi. Tinggal menikmati hidup. Benar, masa muda Pak Ben telah dia
baktikan untuk profesionalisme, idealisme beliau, ketekunan beliau dan disiplin
beliau termasuk memberi surat-surat teguran kecil di sepatu-sepatu kami (bila
kami lupa memasukkan sepatu kami ke laundry setiap selasa dan kamis,
hehehe...freak & detail banget kan orangnya).
Lain dengan Pak Anom, Dr. I Gde Ngurah
Anom, dosen kami. Saya belum pernah diajar oleh beliau, saya hanya dengar
kehebatan bisnis beliau dari Pak Saleh Wikarsa. Owner Apotek MONA Bandung, saya
pikir pak Anom nge-fans sama Mona Ratuliu, ternyata MONA adalah Brand yang
diambil dari inisial beliau ANOM menjadi MONA. Beliau tetap berpraktik meski
sudah usia pensiun. Usia beliau beranjak senja & tetap menikmati
pekerjaannya sebagai apoteker. Bisa membuka lapangan kerja & tetap bisa
berbagi semangat dengan kami para calon apoteker muda.
Sahabat, pernah tahu diagram prioritas?
Yup, matrik 4 kotak dengan kategori sebagai
berikut:
1.
Penting & Mendesak
Contoh
: Bayar cicilan hutang, Bekerja sebaga karyawan
2.
Penting & Tidak
mendesak
Contoh
: Buka Usaha
3.
Tidak Penting &
Mendesak
Contoh
: Kerja Lembur
4.
Tidak Penting &
Tidak Mendesak
Contoh : Jalan-jalan
bareng teman-teman & nongkrong
Oke, hal yang penting untuk diperhatikan
bahwa prioritas pertama ternyata bukan mengerjakan yang Penting & Mendesak,
tetapi mengerjakan yang penting dan tidak mendesak. Dengan buka usaha,
misalnya. Anda telah memilih untuk menyiapkan hari tua yang lebih baik,
insyaAllah. Inilah alasan kedua, Investasi yang ideal bagi seorang apoteker
hingga masa depan adalah apotek.
![]() |
| Apoteker Bisa ! |
Alasan
Kemandirian
Pardi, kenalan saya di Cikarang. Beliau
eks.Kepala regu di Samsung electronic Jababeka-Cikarang yang memutuskan keluar
dari pekerjaannya & menekuni usaha teh Poci bersama istrinya. Dia bercerita
bahwa dia ingin mengajarkan hidup prihatin kepada anak-anaknya, agar mereka
kelak menjadi pribadi yang mandiri. Itulah kenapa, dia memilih segera menikah
dengan uang bonus tahunan-nya alih-alih beli motor V-ixion seperti rekan
kerjanya.
“Mumpung masih muda, mas Arif. Kita
kerja untuk bangun bisnis sendiri, bukan membesarkan bisnis orang lain. Mumpung
anak-anak masih kecil, beban keuangan belum besar, belum mikirin uang sekolah,
saya resign dari sekarang. Kalau resign-nya ditunda-tunda, bisa jadi tambah dan
banyak pertimbangan sehingga susah resign. Usia makin tua, pikiran makin
banyak, dan kebutuhan makin beragam. Ayo, mas Arif, menikahlah. Biar anak-anak
kita tahu, hidup itu perjuangan.” Nasihat mas Pardi. Belakangan saya tahu,
nasihat itu dikutip dari statusnya bang Aad, Adriano Rusfi, salah satu mentor
pengembangan SDM di Salman ITB.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar