Minggu, 18 September 2016

3 Alasan Apoteker Harus Punya Apotek



3 Alasan Apoteker Harus Punya Apotek
 
Perlu atau tidak buat apotek?
Alasan Idealisme
Bisnisku..rumahku...Bisnisku..negeriku....
Bisnisku..perjuanganku....Bisnisku..idealisme kami..
Disana, kami dibina..menjadi seorang pengusaha..
Memberi..solusi nyata.....untuk negeri tercinta..
Berjuta rakyat..memanggil namamu.. mereka lapaar dan bau keringat..
Ku sampaikan salam salam perjuangan..kami semua cinta cinta Indonesia..
Hehehe..itu adaptasi lagu kampusku..pernah dengar,kan?

Ya, bagi Apoteker, buka apotek adalah idealisme. Semua ilmu yang Anda pelajari hingga lebih dari 150 sks adalah untuk membuka apotek. Kalau untuk kerja di bank atau nulis seperti saya, mungkin tidak sampai 150 sks.. contohnya,

Anda suka kelompok keahlian biologi farmasi?
Saat praktik di Apotek, Anda bisa menjelaskan tentang obat herbal dan penanganannya kepada masyarakat secara langsung. Anda bisa memberikan demonstrasi cara penyeduhan bahan simplisia herbal dengan teko tanah khusus, bukan dengan panci alumunium. Why? Anda bisa jelaskan interaksi senyawa flavoloid, tanin atau lignan pada tanaman dengan bahan alumunium dan bahayanya bagi kesehatan pasien Anda.
Di saat yang sama, Anda bisa menjelaskan perbedaan infusa, maserasi, dan ekstraksi dengan detail termasuk cara penyimpanan, jumlah dan frekuensi ekstraksi, serta kriteria stabilita sediaan obat tradisional secara kimia, fisika maupun mikrobiologi.
Penjelasan yang komprehensif tentang pengolahan herbal akan membuat Anda terlihat hebat, kan? Dan Anda dibayar lho, Anda bisa dibanjiri repeat order produk Anda dan Anda mengangkat citra keprofesian Apoteker. Wuih...TOP-BGT. Siapa mau?

Oh, Anda skripsi di bidang Farmakologi & Toksikologi?
Saat praktik di apotek, Anda bisa jelaskan bagaimana interaksi obat-obat dengan makanan. Anda bisa membantu pasien mengerti tentang gaya hidup sehari-hari yang mempengaruhi farmakokinetika dan farmakodinamika obat sehingga Anda bisa memberikan saran dan rekomendasi terapi non-farmakologi. Di Apotek saya, obat hipertensi captopril diminum sesudah makan, padahal di jurnal disebutkan absorpsinya akan berkurang hingga 25% karena berinteraksi dengan makanan, sehingga sebaiknya diberikan sebelum makan.

Ya, maaf..ternyata Anda lebih suka Kimia Farmasi ya?
Saat praktik di apotek, Anda bisa menjelaskan bagaimana Pantoprazole lebih efektif untuk pasien GERD dibanding Omeprazole, dari sisi kajian QSAR dan enantiomer senyawa kiral-nya..ngomong apaan ya? Hehehe,,yang bukan Apoteker sabar ya,,yang penting duit-nya, ga ngerti campuran rasemik juga ga papa. 

Atau sebenarnya Anda nge-fans dengan bidang farmaseutika, biofarmasi dan teknologi farmasi?
Saat praktik di apotek, Anda dapat menerapkan kajian farmakoekonomi berdasarkan profil BA-BE satu obat dengan obat yang lain dan informasi ini akan berguna bagi dokter saat memberikan resep bagi pasien.
Anda juga dapat menjelaskan cara re-suspensi produk dry syrup dengan benar, bisa mencegah peredaran obat palsu dan resep yang tidak bertanggung jawab, termasuk menjelaskan kepada pasien tentang cara penyimpanan obat yang benar agar kualitas obat tetap terjaga.

Eh, kok ternyata Anda suka bisnis, nilai manajemen farmasi dapat A “istimewa”, bisa jadi Anda lebih cocok kerja di Apotek yang full of target, full of marketing, full smart financial& full of skill.
So, bila ada beberapa orang yang berkata bahwa dari 100% ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. Maka hanya 10% saja yang akan digunakan di lapangan kerja, maka apoteker yang praktik di apotek hampir menerapkan semua SKS yang dia pelajari semasa kuliah. Ilmu yang bermanfaat ya? insyaAllah. Demikianlah alasan mengapa Apoteker harus punya apotek.
Apotek itu Tabungannya Apoteker
Alasan Investasi
Saat masih bekerja di Ferron Par Pharmaceuticals, saya sering mengobrol dengan factory manager saya, Benyamin Budi Satria. Beliau alumni se-almamater di ITB angkatan tahun 1979. Beliau bercerita bagaimana perjalanan cinta & pekerjaannya, yang membawanya harus pulang pergi Palembang Jakarta & komitmen beliau untuk selalu memenuhi tugas dan tanggung jawab yang telah diembannya. Sebelum audit Bavarian Germany, di sela-sela memeriksa kelengkapan dokumen shipping produk Glucient & Penyimpanan Produk NOVO, beliau istirahat sejenak dan bertanya pada saya,
“Bo, kamu tahu, apa yang paling saya inginkan dari anak saya, Kevin?” tanyanya serius. Oh ya,,panggilan sy di Ferron adalah ABOatau Bo. Sy takut-takut melihat wajah Pak Ben, saya bilang, “Mungkin kuliah di luar negeri selepas SMA ini, Pak?”.
“Bukan.”, jawabnya. “Kemarin, istri saya telepon, dia buatkan untuk saya makanan spesial Gurame Terbang, dia sedang belajar masakan oriental ke teman di gereja yang juga seorang chef. Kamu pernah makan Gurame Terbang, Bo?” tanyanya. “Belum, Pak. Sy paling makan Gurame di D’Cost saja.”, jawab saya. Kami berdua tertawa.
“Bo, saya ga bisa datang makan malam kemarin dan istri saya kecewa.” Lanjutnya dengan nada datar. “Buat Kevin, saya ingin di masa tua saya, dia mau merawat saya.” Kami diam, saya bingung mau ngomong apa..trus tiba-tiba ingat sekuel film Detektif Conan yang kemarin ditonton bareng sama istri dan saya akhirnya bilang, “Pak Ben telah bekerja keras untuk keluarga, Pak Ben akan bahagia di masa tua nanti.”
Tentu di masa tua, Pak Ben tidak mau bekerja lagi. Tinggal menikmati hidup. Benar, masa muda Pak Ben telah dia baktikan untuk profesionalisme, idealisme beliau, ketekunan beliau dan disiplin beliau termasuk memberi surat-surat teguran kecil di sepatu-sepatu kami (bila kami lupa memasukkan sepatu kami ke laundry setiap selasa dan kamis, hehehe...freak & detail banget kan orangnya).

Lain dengan Pak Anom, Dr. I Gde Ngurah Anom, dosen kami. Saya belum pernah diajar oleh beliau, saya hanya dengar kehebatan bisnis beliau dari Pak Saleh Wikarsa. Owner Apotek MONA Bandung, saya pikir pak Anom nge-fans sama Mona Ratuliu, ternyata MONA adalah Brand yang diambil dari inisial beliau ANOM menjadi MONA. Beliau tetap berpraktik meski sudah usia pensiun. Usia beliau beranjak senja & tetap menikmati pekerjaannya sebagai apoteker. Bisa membuka lapangan kerja & tetap bisa berbagi semangat dengan kami para calon apoteker muda.

Sahabat, pernah tahu diagram prioritas?
Yup, matrik 4 kotak dengan kategori sebagai berikut:
1.      Penting & Mendesak
Contoh : Bayar cicilan hutang, Bekerja sebaga karyawan
2.      Penting & Tidak mendesak
Contoh : Buka Usaha
3.      Tidak Penting & Mendesak
Contoh : Kerja Lembur
4.      Tidak Penting & Tidak Mendesak
Contoh : Jalan-jalan bareng teman-teman & nongkrong

Oke, hal yang penting untuk diperhatikan bahwa prioritas pertama ternyata bukan mengerjakan yang Penting & Mendesak, tetapi mengerjakan yang penting dan tidak mendesak. Dengan buka usaha, misalnya. Anda telah memilih untuk menyiapkan hari tua yang lebih baik, insyaAllah. Inilah alasan kedua, Investasi yang ideal bagi seorang apoteker hingga masa depan adalah apotek.

Apoteker Bisa !

Alasan Kemandirian
Pardi, kenalan saya di Cikarang. Beliau eks.Kepala regu di Samsung electronic Jababeka-Cikarang yang memutuskan keluar dari pekerjaannya & menekuni usaha teh Poci bersama istrinya. Dia bercerita bahwa dia ingin mengajarkan hidup prihatin kepada anak-anaknya, agar mereka kelak menjadi pribadi yang mandiri. Itulah kenapa, dia memilih segera menikah dengan uang bonus tahunan-nya alih-alih beli motor V-ixion seperti rekan kerjanya.
“Mumpung masih muda, mas Arif. Kita kerja untuk bangun bisnis sendiri, bukan membesarkan bisnis orang lain. Mumpung anak-anak masih kecil, beban keuangan belum besar, belum mikirin uang sekolah, saya resign dari sekarang. Kalau resign-nya ditunda-tunda, bisa jadi tambah dan banyak pertimbangan sehingga susah resign. Usia makin tua, pikiran makin banyak, dan kebutuhan makin beragam. Ayo, mas Arif, menikahlah. Biar anak-anak kita tahu, hidup itu perjuangan.” Nasihat mas Pardi. Belakangan saya tahu, nasihat itu dikutip dari statusnya bang Aad, Adriano Rusfi, salah satu mentor pengembangan SDM di Salman ITB.

Seorang apoteker yang membuka apotek sendiri, insyaAllah akan lebih mandiri dan insyaAllah ilmunya dapat lebih banyak bermanfaat serta dapat meningkatkan serapan tenaga kerja. Demkianlah alasan ketiga, semoga Anda apoteker semakin semangat untuk buka Apotek. 

Eits..semangat saja tidak cukup ya, Anda perlu tahu 7 pilar utama dalam bisnis Apotek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar